Total Pageviews

Tuesday, 20 March 2018

Cerita Anak Didi dan Ayam Goreng


Didi dan Ayam Goreng

Di pagi hari yang cerah. Terlihat Didi sedang sarapan dimeja makan. Didi adalah seorang anak kelas tiga sekolah dasar. Didi tinggal di wilayah ibu kota Indonesia, Jakarta. Seperti biasa Didi sarapan dengan ayam goreng. Ayam goreng adalah menu makanan yang sangat ia sukai. Setiap pagi Didi makan dengan ayam goreng buatan ibu. Didi tidak ingin makan jika tidak ada ayam goreng. Apabila ada ayam goreng, Didi makan sangat lahap dan banyak. “Ayam goreng sangat lezat” ujar Didi sambil memakan ayam gorengnya. 

Setelah sarapan, Didi pergi berangkat ke sekolah. Tidak lupa ia berpamitan dengan ayah dan ibunya. Sebelum keluar dari pagar rumahnya. Didi pergi bergegas ke belakang halaman rumah. Setiap hari ia selalu memberi makan ayam kecilnya. Ayam kecilnya sangat suka memakan beras atau nasi yang telah diberi air. Ayam kecilnya diberi nama “Pitik”. Didi mendapat ayam kecil dari Nenek ketika beliau sedang berkunjung kerumah Didi. Nenek berpesan agar ayam kecil itu dijaga dengan baik.
Bel sekolah pun berbunyi. Tepat sekali Didi berada di depan gerbang sekolah. Didi merapihkan dasi dan pakaiannya sebelum masuk kedalam kelas. Bu Amel pun masuk kedalam kelas. Semua anak menyambut dengan semangat 
“Selamat pagi anak – anak, masih semangat semuanya?” tanya Bu Amel dengan wajah ceria. “Masih bu….” jawab siswa – siswi dengan antusias. “Hari ini ibu mempunyai sebuah origami. Origami adalah karya seni lipat dari kertas. Origami berasal dari negara Jepang. Nah ini adalah contoh – contoh karya seni origami” kata Bu Amel sambil menunjukkan hasil karya origami dengan beraneka macam bentuk. Setelah semua mengerti penjelasan dari Bu Amel,  siswa dan siswa langsung memikirkan bentuk apa yang akan mereka buat dari teknik kertas origami.
Didi terlihat sangat semangat. Ia ingin sekali membuat origami bentuk hewan. Ia ingin membuat bentuk ayam kecil dengan origami. Sepulang sekolah ia langsung mengamati bentuk Pitik dengan baik. Agar dapat menghasilkan karya yang sangat bagus. Didi masuk kerumah dengan tergesa – gesa. Ibu bingung melihat sikap Didi. “Didi, ayo makan siang dulu. Ibu sudah menyiapkan ayam goreng kesukaanmu nih” kata Ibu. “Iya bu, nanti dulu sebentar lagi” tutur Didi. Ibu pun membiarkan Didi yang masih berada di luar halaman.
Setelah  mengamati Pitik, Didi langsung menuju meja makan. Tak lupa Didi mencuci tangan sebelum makan. Dilihatnya ada banyak makanan disana. Makanan itu termasuk empat sehat lima sempurna. Disana ada nasi, sayur bayam, ayam goring, buah jeruk dan susu. Didi senang sekali melihat ayam goreng yang tersaji di atas piring. Ia hanya memakan ayam goreng dan tidak memakan sayur bayam.
Hari itu hari minggu Didi akhirnya telah menyelesaikan tugas melipat kertas. Didi membuat origami bentuk ayam. Lipatannya sangat rapi dan bagus. Hari senin ia akan membawa tugasnya. Didi yakin Bu Amel pasti bangga padanya. Tak lupa ia memberi Pitik makan beras banyak sebagai tanda terima kasih. Sehingga Pitik tampak sangat gemuk dan lucu.
Keesokan harinya Didi mengumpulkan tugas origaminya. Ternyata benar dugaannya, semua orang memuji karya seninya. Didi merasa sangat senang dan bangga. Didi ingin cepat – cepat pulang dan menceritakan keberhasilannya hari ini kepada Ibu. Didi pun pulang dengan mengayuh sepedah dengan cepat. Sehingga ia merasa haus dan lapar.
Sesampainya dirumah, Didi langsung mencari ibunya. Ia melihat isi meja makan. Ia terkejut melihat tidak ada ayam goreng dimeja makan. Yang ada hanya sayur sup dan tempe goreng serta buah jeruk dan susu. “Ibu……. mana ayam gorengkuuu…..” Didi berteriak dengan sangat keras. Ibu keluar dari dalam kamar menuju meja makan. “Didi, hari ini ibu tidak memasak ayam goreng. Penjual ayam langganan ibu sedang tutup hari ini.” jawab Ibu. “Aaaa… aku tidak mau tahu pokoknya aku harus makan ayam goreng hari ini. Aku kan tadi sudah dapat nilai yang sangat bagus disekolah. Pokoknya aku mau makan ayam goreeengggg…. bukan sayur sup” ujar Didi sambil merengek – rengek pada Ibunya. “Ya sudah kalo itu mau kamu, akan ibu buatkan ayam goreng” kata Ibu dengan wajah marah.
Ibu pun keluar rumah. Ibu memikirkan bagaimana cara agar dapat memasak ayam goreng untuk Didi. Akhirnya ibu pergi menuju halaman rumah. Dilihatnya ayam kecil milik Didi sedang memakan beras. Tanpa berpikir panjang. Ibu langsung mengambil Pitik dan membawanya kedapur untuk segera dimasak. Didi sedang asik duduk diatas kasur sambil menunggu ayam gorengnya matang.


Sudah satu jam Ibu memasak ayam goreng didapur. Setelah selesai memasak. Ibu menyiapkan ayam goreng diatas meja makan. Ibu memanggil Didi untuk makan siang. Perut Didi sudah sangat lapar. Didi merasa sangat senang melihat ayam gorengnya berukuran sangat besar. Tanpa bertanya – tanya lagi, Didi langsung melahap ayam goreng buatan Ibu. Karena terlalu lapar Didi makan tanpa menyisakan daging ayam sedikit pun. “Bu, ini ayamnya kok gurih sekali. Rasanya beda dari ayam – ayam biasanya. Memang ibu jago sekali masak ayam”. ujar Didi sambil mencuci tangan. “Kamu ini bisa saja kalau sudah kenyang”. kata Ibu sambil tersenyum.
Didi pun langsung menuju kandang Pitik untuk memberi makan siang. Betapa terkejutnya Didi melihat Pitik tidak ada didalam kandang. Didi mencari – cari Pitik keseluruh halaman rumah. Didi akhirnya bertanya pada ibu. “Ibu, lihat si Pitik tidak? Kok dia tidak ada didalam kandang sih?” tanya Didi dengan wajah murung. “Kan Pitik ada didalam perutmu Di” jawab Ibu dengan santai. “Haaah… maksud Ibu? tanya Didi terkejut. “Iya, ayam goreng yang barusan kamu makan itu adalah daging si Pitik. Kan Ibu sudah bilang bahwa hari ini tidak ada menu ayam goreng, tapi kamu terus memaksa Ibu. Yasudah ibu masak saja ayam kesayanganmu itu” kata Ibu dengan tenang. “Apaaa bu???....... Ibu, aku minta maaf. Aku janji tidak akan makan ayam goreng terus. Aku mau Pitik bu….” ucap Didi sambil menangis.

Ibu langsung memeluk Didi yang sedang menangis. Ibu menasehati Didi bahwa ia harus makan empat sehat lima sempurna agar mendapat gizi yang seimbang. Bukan hanya makan ayam goreng tetap harus makan sayur juga. Semenjak hari itu Didi mulai makan tanpa lauk ayam goreng. Didi sudah mau memakan tempe goreng atau tahu goreng yang kaya akan protein. Akhirnya Didi dibelikan burung Beo oleh Ayah sebagai pengganti Pitik. Beo pun menjadi teman yang tidak kalah menyenangkan bagi Didi.

0 komentar:

Post a Comment