Didi
dan Ayam Goreng
Di pagi hari yang cerah. Terlihat Didi
sedang sarapan dimeja makan. Didi adalah seorang anak kelas tiga sekolah dasar.
Didi tinggal di wilayah ibu kota Indonesia, Jakarta. Seperti biasa Didi sarapan
dengan ayam goreng. Ayam goreng adalah menu makanan yang sangat ia sukai.
Setiap pagi Didi makan dengan ayam goreng buatan ibu. Didi tidak ingin makan
jika tidak ada ayam goreng. Apabila ada ayam goreng, Didi makan sangat lahap dan
banyak. “Ayam
goreng sangat lezat” ujar Didi sambil memakan ayam gorengnya.
Setelah sarapan, Didi pergi berangkat ke
sekolah. Tidak lupa ia berpamitan dengan ayah dan ibunya. Sebelum keluar dari
pagar rumahnya. Didi pergi bergegas ke belakang halaman rumah. Setiap hari ia
selalu memberi makan ayam kecilnya. Ayam kecilnya sangat suka memakan beras
atau nasi yang telah diberi air. Ayam kecilnya diberi nama “Pitik”. Didi
mendapat ayam kecil dari Nenek ketika beliau sedang berkunjung kerumah Didi.
Nenek berpesan agar ayam kecil itu dijaga dengan baik.
Bel sekolah pun berbunyi. Tepat sekali
Didi berada di depan gerbang sekolah. Didi merapihkan dasi dan pakaiannya
sebelum masuk kedalam kelas. Bu Amel pun masuk kedalam kelas. Semua anak
menyambut dengan semangat
“Selamat pagi anak – anak, masih
semangat semuanya?” tanya Bu Amel dengan wajah ceria. “Masih bu….” jawab siswa
– siswi dengan antusias. “Hari ini ibu mempunyai sebuah origami. Origami adalah
karya seni lipat dari kertas. Origami berasal dari negara Jepang. Nah ini
adalah contoh – contoh karya seni origami” kata Bu Amel sambil menunjukkan
hasil karya origami dengan beraneka macam bentuk. Setelah semua mengerti
penjelasan dari Bu Amel, siswa dan siswa
langsung memikirkan bentuk apa yang akan mereka buat dari teknik kertas origami.
Didi
terlihat sangat semangat. Ia ingin sekali membuat origami bentuk hewan. Ia
ingin membuat bentuk ayam kecil dengan origami. Sepulang sekolah ia langsung mengamati
bentuk Pitik dengan baik. Agar dapat menghasilkan karya yang sangat bagus. Didi
masuk kerumah dengan tergesa – gesa. Ibu bingung melihat sikap Didi. “Didi, ayo
makan siang dulu. Ibu sudah menyiapkan ayam goreng kesukaanmu nih” kata Ibu.
“Iya bu, nanti dulu sebentar lagi” tutur Didi. Ibu pun membiarkan Didi yang
masih berada di luar halaman.
Setelah mengamati Pitik, Didi langsung menuju meja
makan. Tak lupa Didi mencuci tangan sebelum makan. Dilihatnya ada banyak
makanan disana. Makanan itu termasuk empat sehat lima sempurna. Disana ada
nasi, sayur bayam, ayam goring, buah jeruk dan susu. Didi senang sekali melihat
ayam goreng yang tersaji di atas piring. Ia hanya memakan ayam goreng dan tidak
memakan sayur bayam.
Hari itu hari minggu Didi akhirnya telah
menyelesaikan tugas melipat kertas. Didi membuat origami bentuk ayam. Lipatannya
sangat rapi dan bagus. Hari senin ia akan membawa tugasnya. Didi yakin Bu Amel
pasti bangga padanya. Tak lupa ia memberi Pitik makan beras banyak sebagai
tanda terima kasih. Sehingga Pitik tampak sangat gemuk dan lucu.
Keesokan harinya Didi mengumpulkan tugas
origaminya. Ternyata benar dugaannya, semua orang memuji karya seninya. Didi
merasa sangat senang dan bangga. Didi ingin cepat – cepat pulang dan
menceritakan keberhasilannya hari ini kepada Ibu. Didi pun pulang dengan
mengayuh sepedah dengan cepat. Sehingga ia merasa haus dan lapar.
Sesampainya dirumah, Didi langsung
mencari ibunya. Ia melihat isi meja makan. Ia terkejut melihat tidak ada ayam goreng
dimeja makan. Yang ada hanya sayur sup dan tempe goreng serta buah jeruk dan
susu. “Ibu……. mana ayam gorengkuuu…..” Didi berteriak dengan sangat keras. Ibu
keluar dari dalam kamar menuju meja makan. “Didi, hari ini ibu tidak memasak
ayam goreng. Penjual ayam langganan ibu sedang tutup hari ini.” jawab Ibu.
“Aaaa… aku tidak mau tahu pokoknya aku harus makan ayam goreng hari ini. Aku
kan tadi sudah dapat nilai yang sangat bagus disekolah. Pokoknya aku mau makan
ayam goreeengggg…. bukan sayur sup” ujar Didi sambil merengek – rengek pada
Ibunya. “Ya sudah kalo itu mau kamu, akan ibu buatkan ayam goreng” kata Ibu
dengan wajah marah.
Ibu
pun keluar rumah. Ibu memikirkan bagaimana cara agar dapat memasak ayam goreng
untuk Didi. Akhirnya ibu pergi menuju halaman rumah. Dilihatnya ayam kecil
milik Didi sedang memakan beras. Tanpa berpikir panjang. Ibu langsung mengambil
Pitik dan membawanya kedapur untuk segera dimasak. Didi sedang asik duduk
diatas kasur sambil menunggu ayam gorengnya matang.
Sudah satu jam Ibu memasak ayam goreng
didapur. Setelah selesai memasak. Ibu menyiapkan ayam goreng diatas meja makan.
Ibu memanggil Didi untuk makan siang. Perut Didi sudah sangat lapar. Didi
merasa sangat senang melihat ayam gorengnya berukuran sangat besar. Tanpa
bertanya – tanya lagi, Didi langsung melahap ayam goreng buatan Ibu. Karena
terlalu lapar Didi makan tanpa menyisakan daging ayam sedikit pun. “Bu, ini
ayamnya kok gurih sekali. Rasanya beda dari ayam – ayam biasanya. Memang ibu
jago sekali masak ayam”. ujar Didi sambil mencuci tangan. “Kamu ini bisa saja
kalau sudah kenyang”. kata Ibu sambil tersenyum.
Didi pun langsung menuju kandang Pitik
untuk memberi makan siang. Betapa terkejutnya Didi melihat Pitik tidak ada
didalam kandang. Didi mencari – cari Pitik keseluruh halaman rumah. Didi
akhirnya bertanya pada ibu. “Ibu, lihat si Pitik tidak? Kok dia tidak ada
didalam kandang sih?” tanya Didi dengan wajah murung. “Kan Pitik ada didalam
perutmu Di” jawab Ibu dengan santai. “Haaah… maksud Ibu? tanya Didi terkejut.
“Iya, ayam goreng yang barusan kamu makan itu adalah daging si Pitik. Kan Ibu
sudah bilang bahwa hari ini tidak ada menu ayam goreng, tapi kamu terus memaksa
Ibu. Yasudah ibu masak saja ayam kesayanganmu itu” kata Ibu dengan tenang.
“Apaaa bu???....... Ibu, aku minta maaf. Aku janji tidak akan makan ayam goreng
terus. Aku mau Pitik bu….” ucap Didi sambil menangis.
Ibu
langsung memeluk Didi yang sedang menangis. Ibu menasehati Didi bahwa ia harus
makan empat sehat lima sempurna agar mendapat gizi yang seimbang. Bukan hanya
makan ayam goreng tetap harus makan sayur juga. Semenjak hari itu Didi mulai
makan tanpa lauk ayam goreng. Didi sudah mau memakan tempe goreng atau tahu
goreng yang kaya akan protein. Akhirnya Didi dibelikan burung Beo oleh Ayah
sebagai pengganti Pitik. Beo pun menjadi teman yang tidak kalah menyenangkan
bagi Didi.









0 komentar:
Post a Comment